Followers

Carian Dalam Blog Ini

Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts
Showing posts with label Muhammad Rois Rinaldi. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

NETRA

NETRA

sebagai anak aku lari dari pesusuan sebelum waktunya
meminang tualang pada musim-musim gasal yang gagal
mengalirkan sungai-sungai dan hektaran sawah kering
dalam seruang kelakar yang disebut dengan kehidupan
tempat aku tak dibiarkan menerbangkan layang-layang
atau sekadar menyentil butir kelereng di pekarangan

aku kini di kota baja setelah lintasi kota tanpa tanda baca
mengakrabi suara knalpot, kepul asap pabrik dan bilangan
pada angka-angka, melempar dadu dan memanah nasib
wajah-wajah dengan berjuta lakon telah begitu cumbu
tapi aku semakin hilang wujud, separti pecah batu-batu

barang kali hanya rumahmu yang tak asing bagiku, ibu
jika aku mulai lagi rindu, aku ingin tidur dalam rahimmu

Cilegon, 2013

Saturday, October 20, 2012

HIKAYAT WINGIT

HIKAYAT WINGIT
: Abah Arsyad Indradi

I
seperti halnya daun di pucuk ranting
gegas terjun meleburkan janjinya
pada bongkahan tanah merah
atau karang yang tinggal sepotong
terseret ganas gelombang pasang
ke dasar samudera berserah pecah
melunasi hikayat keberadaannya

sejatinya hidup adalah musafir
meski dalam setiap perjalanan
melintasi negeri imaji tanpa tepi
puisi berpeluh tak pernah selesai
mengukur jarak tempuh terjauh
tapi jika senja t’lah turuni langit
terasa singkat sekali hakikat diri
diam-diam menghimpun sepi
dalam-dalam susupi ruang pribadi
punguti tasbih di lintasan wingit
ketika batas itu benar datang
membuka pintu menuju pulang

II
salam masa bagimu, abah
penyair gila mengembara di rimba
susuri lagi jalan setapak demi setapak
meski tak seperti kanak dulu tertawa
mengejar layanglayang putus benang
tatkala awan hitam penuhi wajah petala
sibaklah peta pematang mencari Cinta
di setiap puncak malam sepertiga

Cilegon-Banten
20 Oktober 2012

Tuesday, October 9, 2012

PADA SUATU JARAK

PADA SUATU JARAK

burung-burung bebas memilih tempat singgah
saat musim tetirah membelah perutnya sendiri
kumbang-kumbang pada perjalanan yang jauh
selalu temukan kembang beraneka tembang
tapi aku telah kehilangan bahasa bunga-bunga
untuk serangkai cinta yang terlupa pernah ada

pada almanak-almanak luka tanggal
berguguran tanpa dapat kucatat
ketika terperangkap dalam rindu
gumam merayapi tubuh malam
yang begitu pongah dan sunyi
terselip pada ruas jalan buntu
sementara aku sibuk mengemas
tawa-tangis yang pernah degup
di dadaku--di hening yang asing
sirine ambulan menyeru namamu,
seketika ingin kupesan tiket bus ciparay
dan tak ingin antri jadwal pemberangkatan

di terminal seorang lelaki menghadang
“pulanglah lagi pada tualang jalang
biar cintamu dalam pembaringan
sebelum akhirnya menyerah
abadi di hampar dadaku”

kekasih, benarkah tempurungmu retak?
kabari aku cepat sebelum cemas sekarat
dan lelaki ini kuhantam hingga lumat!

Cilegon-Banten.
09 Oktober 2012

FRAGMEN MUSIM

FRAGMEN MUSIM
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

ketika udara tertangkup hujan deras, ditampar dingin
yang asing dan tertusuk ranting tajam hingga luka dalam
mengguratkan namamu pada retakan kaca-kaca berembun
seperti mengeja kembali banjaran aksara yang tak kukenali
di seberang jalan kuntum-kuntum jambu ungu yang gigil
telah teronce sempurna di tangan mungil bocah-bocah
yang menanggalkan baju berlari sejauh derai merinai
sebelum akhirnya lesap sedang deras belum usai
begitu lampau mengingat-ingat kembali keterhilangan
tapi tiba-tiba kenangan memetir di tujuh petala--di mataku
saling silang menyimpul jaring laba-laba: terperangkap di sana

ah! aku biasa berperang dengan kecamuk pikiran sendiri
mengangkat garda dan membenturkan tempurung kepala
memompa senapan lantas gegas meledakkannya di aorta
akrobat waktu adalah segelas kopi hitam yang kuaduk
di meja-meja perjumpaan yang diangkangi kemunafikan
aku terlanjur autis: berkali kopi dingin enggan kuteguk
karena antara perbincangan berkelebatan psikopat
tapi tak mungkin asingkan diri dari perkumpulan
karena dalam sendiri aku didatangi angka-angka
masa silam yang tak pernah selesai kubilang

bila hujan reda dan musim kembali ke tempat semula
pada malam berbulan retak. aku kembali lintasi pematang
ketika jangkrik-jangkrik juga kunang-kunang khusuk berdoa
saat itu, jangan tidur terlalu lelap, bu, lekaslah buka pintu
sebelum esok datang, kembali aku dalam bayang dan kenang

Cilegon-Banten
07 Oktober 2012

Sunday, October 7, 2012

SEBELUM CIPARAY MELERAI ANDAI HINGGA DERAI

SEBELUM CIPARAY MELERAI ANDAI HINGGA DERAI

Karya: Muhammad Rois Rinaldi

I
perjalanan selangit abu menembus tubuhtubuh batu
lempar lintasan terengkuh antara himpit gegunung
rumahrumah dan beberapa hutan juga banjaran bambu
meruhi lagi kematian yang begitu menempurung jumpa

meski terhenti di kedaikedai terminal teguk kopi hitam
aku berkelakar kembali dengan misteri di kumparan nyeri
seketika jalanan bersibahu menggadang gamang dendang
pada malam senyap yang merayap gegap lambaikan tangan
pada kutubkutub kerinduan yang hampir menemu lelehnya
: dirumuskan tatanan gelas, piring dan tempat sandarkan bibir

II
kekasih yang jauh menunggu rengkuh segera terlunaskan
kukukuku ayat semesta mengesumat rejam ingatan kekanak
yang ranting menggemeretak patah mengacungi batasbatas
: menetaslah tangis di lelubuk jiwa menggerigi sekujur sukma

namun debar mempegasi laju merentas ngilu yang asing
sampai kekasih tersenyum di muka jendela merenda rona
tanpa salam menebas kalang seolah mendulang cerlang
namun garda kesadaran tuntaskan pergumulan malang
: tirai ranjang bersibakan memintal sepi yang menyalak

III
tak ada mengerti bagaimana cinta melabirin dan minta arti
saat diam jadi media paling gerhana dan bicara berarti purna
sedang tak ada definisi bagi cinta yang sangat lama hilang bahasa
: bersiteguh adalah kehancuran dan membelah rasa adalah binasa

bilakah seusai jumpa adalah abadinya jeda, kemana rindu setelahnya?

Ciparay menuju Banten
2012

FRAGMEN SEONGGOK SINGKONG

FRAGMEN SEONGGOK SINGKONG

muka subuh kemarau menggelapar lapar mahasiwa yang dikata pintar
lugu dan kerap kena tipu di sekitar pekarangan kampus berputarputar
antara akar menjalari sungut rumput setonggak singkong teronggok
bila seorang sahabat datang membawa rantang didekaplah erat
tapi semenjak terdepak kelebat bebayang menambah mesakat

ditebasnya semak merenggut montong dari cakar tanah
demi segala kecewa menjejaki kemunafikan punggawa
dibakarnya reranggas kayu meraba rembes duka di nyala
memujanggakan mata yang semalaman tak juga hatam
mengeja namanama, seketika membrudul usus mayat
diserunya dalam bisu seluruh pemilik nisan hampa tulisan
tengadah pada runcing hujan: musim kehilangan haluan
dan bersama kumparan dendam pecahlah jiwa dari sukma
memusatkan perhatian pada montong singkong di atas bara
menundukkan kepala juga daya yang begitu lama tertekuk
sebelum akhirnya singkong gosong menggenapkan kutuk!

langit perlahan melerengi bola api raksasa yang tergelincir sempoyong
di angkangannya mahasiwamahasiswa ditembaki di jalanjalan tuntutan
polisi-militer menyanyikan mars kemenangan atas kedunguannya sendiri
menerobos kampuskampus melakukan invansi teluk babi membutaliar
segerombol pelajar tawuran ngingsrek ingus dan susu keledai di bibirnya
sedang para ibu sibuk arisan, ramai betul goyang pinggul di alunalun kota
dan pemulung-gepeng-janda-yatim-piatu antara seliweran orang gila
sibuk mencari undangundang, pancasila, bineka tunggal ika dan nkri
yang ditelanjang-diperkosa-dikebiri sebelum akhirnya amblas!

seonggok singkong bakar yang jadi bara hampa panas
takkan bikin mampus walau seekor bayi tikus sekalipun
karena kemarau selalu ngacak di pagi yang tergelepar
sedang berjuta kilo meter kabar berkoarkoar hambar
lantas apa gunanya pendidikan soal hukum dan moral
bila kian terpelajar perwajahannya kian mewujud barbar,
apa gunanya pilarpilar kebangsaan dalam setiap seminar
bila menambah kenyataan atas ritualritual ketimpangan ?

pada kemungkinankemungkinan yang kian mengobori muskil
berkali dirumuskan kegagalan berikut dengan pesta penyambutan
dan manusiamanusia indonesia dungulah yang dijadikan sesajen
bagi tarian jelata yang merakyatkan laknat di sekujur mesakat!

Cilegon-Banten
07 Oktober 2012