Followers

Carian Dalam Blog Ini

Showing posts with label Azie Nasrullah. Show all posts
Showing posts with label Azie Nasrullah. Show all posts

Sunday, November 11, 2012

BISMILLAHI

BISMILLAHI

Bismillahi...
tiada lain kusebut Asma
Ar-Rahmaan dalam pusaran kasih
Ar-Rahaim erat pelukan sayang

A'uudzubillahi...
kokohkan benteng penjaga
dari kungkungan sang kutuk
sejenisku juga bayang tak kasat mata

Allahumma...
mata terbuka diseru panggilan
pamit sejenak dari mimpi duniawi
basah sejadah menadah embun di wajah

Shodaqallaahu...
kebenaran itu, DzatMu
dengan segala titah
di luas padang ibadah

Bandung, 11 Nov 2012

Saturday, November 10, 2012

LEWAT SELEMBAR SURAT KABAR

LEWAT SELEMBAR SURAT KABAR

pagi ini terasa segar, suasana tetap normal
seperti kemarin, sarapan sepiring berita kriminal

lewat selembar surat kabar yang tergeletak di meja
bersanding dengan secangkir kopi juga sepotong roti
kutikamkan pisau tanpa selai, tepat di batang hidungnya

orang dangkal berpura-pura bodoh
membodohi kedunguannya sendiri
tak habis pikir, hanya bisa nyengir

saat dunia panas membahas senjata nuklir
merah putih masih membasahi pipi pertiwi
tak ada yang menantang perang
entah siapa meminta darah untuk tumpah

di muka sebuah surat kabar
bambu runcing dikenang lagi
mendapat tempat di pojok kiri
sebagai tajuk untuk dilupakan

Bandung, 10 November 2012

Friday, November 9, 2012

GATAL

GATAL

matamu gatal
tanganmu gatal
mulutmu gatal

melihat wanita gempal
benang dipintal-pintal
kaubuat sebuah bantal

kelelakianmu tlah lama batal
awas kaubuat noda fatal
katamu kaumau kekal

datang wanita gatal
garukanmu semakin vital
menuju bagian inti rudal

jangan sampai kau gagal
muka gatalmu sudah kebal
dilapisi topeng binal

kau buaya atau kadal?
dengan gatal kau jadikan modal
mengayuh garuk menginjak pedal

otakmu gatal
hatimu gatal
jiwamu gatal

lelaki gatal berambut ikal
berliur mengeja lembar terpal
tertawa bersama para begundal
siap dilantik jadi berandal

Bandung, 09 Nov 2012

Monday, November 5, 2012

DI BATAS ANGAN

DI BATAS ANGAN

terbujur tubuh rindu, kaku
ditelan masa menyulam asa
mengais nafas disentak sesak

tulang kaki terkunci, lumpuh
langkah menyerah pada lelah
mata memandang tak tentu arah
menelan ludah di kelu lidah

selembar angin menuliskan harapan
sederhana mata mengeja, bibir terbata
mimpi berterali besi, juga terkunci
keras hidup memaksaku melunak
menguatkan ikatan di batas angan

Bandung, 04 November 2012

Tuesday, October 9, 2012

SEPI PALING RAMAI

SEPI PALING RAMAI

pada rintik-rintik gerimis setelah pelangi menggugurkan warnanya
semu warna kelabu mengabutkalutkan sisa merenungi mendung
wahai... kicau-kicau kawanan burung gereja
pungutlah butiran asa di antara bayangan air tenang
kepak-kepak mengapak membelah tirai senja
meramaikan lalulalang lamunan di kepala

Bandung, 091012

KISAH YANG TERSEMBUNYI

KISAH YANG TERSEMBUNYI

ingatkah kau tentang kisah kita yang tersembunyi?
tentang seorang lelaki yang mengaku kekasihmu
saat cinta sudah ada ;diantara kita

ingatkah kau tentang kisah kita yang tersembunyi?
tetang teror-teror misteri yang menghampiriku
saat kutahu ternyata bukan hanya aku yang memiliku

ingatkah kau tentang runtuhnya rasa percayaku?
saat masa sulit kuhadapi kekhianatanmu itu
aku tutupi hingga tak berbekas di telinga
;siapa pun tanpa kecuali

ingatkah kau?
kukira tidak
kau sudah lupa, bukan?

ini kisah yang tersembunyi sayang
bisa membersihkan mukaku di hadapan orang
tapi tak perlu mereka tahu, itu kan yang kau mau?
kau terlalu takut mereka murka akan perbuatanmu
aku hargai karena kau memintaku tuk bungkam sejuta diam

ini kisah yang tersembunyi
semoga kau lupa
murka dari, entah siapa akan mengamini

Bandung, 081012

Sunday, October 7, 2012

Seseorang Yang Kupanggil Ayah

Seseorang Yang Kupanggil Ayah

Saat orang lain mempermasalahkan soal rupiah, kau malah meminta maaf padaku setelah lelah mencari nafkah. Kau bilang tak bisa seperti kebanyakan orang, memberi uang sampai anaknya membangkang. Kau keterlalaluan... merendahkan dirimu membuatku semakin merasa bersalah.

Kekhawatiranmu sama sekali tak membuatku malu. Meski kau selalu bertanya, "apa kau sudah makan?" Aku tahu kita pura-pura lupa bahwa tak sepeser pun kita punya. Dan jawabku tentu tak ingin melipatgandakan kekhawatiranmu di rumah bersama ibunda tercinta. Kubilang "Ya... aku sudah kenyang, dengan hidangan kasih sayang darimu juga orang-orang di sini, menemani selalu selama aku tak pulang."

Aku terus mencari dalam kehilanganku. Kau tetap akan menjadi seseorang, yang kupanggil "Ayah..." hingga suatu saat nanti saat kupulang. Tolong ajarkan pula aku tentang menjadimu. Karena suatu saat nanti, mungkin ada pula yang akan memanggilku sebagai seseorang yang dipanggil "Ayah..."

Bandung, 061012

Friday, October 5, 2012

PAGI

PAGI

kuhirup nafas sejuk di pagi buta ini
bau embun membersihkan rongga dada
dari buruk dan busuk prasangka
dari picik dan licik yang bersahabat lama
menduduki hati tanpa kursi menempeli nurani

angin merasuk ke dalam kamar bisu
membuka percakapan antara kita
mungkin berdua, atau... entah siapa yang dibawanya

bumi hening kembali setelah hilang kumandang
nyaring kokok ayam jantan seperti kelelahan
katanya, percuma membangunkan orang
jiwa-jiwa pemalas, kebanyakan pecundang
tapi... ada pula yang mungkin masih jadi pahlawan

ingin kusambut mentari dengan senyum paling seri
ah... apakah dia masih ingat padaku setelah pertengkaran itu?
saat bayang-bayang yang sama kita ciptakan mati
tertutup awan dan terhalang hujan deras sekali
lalu kucekik mentari, hingga senja tak terasa berlalu
tak sempat kupohon maaf padanya setelah itu
karena pagiku pun sudah tak sudi mengindahkan pagiku...

bandung, 051012