Followers

Carian Dalam Blog Ini

Showing posts with label AB Airis Shah. Show all posts
Showing posts with label AB Airis Shah. Show all posts

Sunday, October 27, 2013

DAN BERLARILAH KE LANGIT

DAN BERLARILAH KE LANGIT

dan seri bersinar seribu warna
merungkai jutaan rasa rindu, cinta dan kecewa
meresap ke tangkai rasa
seorang manusia

dan kasih pudar bebunga cinta
tenggelam lemas dilambung ombak rasa
pecah dan berdarah menyiksa jiwa
seorang petapa

dan gugur setitis madu rasa
mengalir sendu sayu melara sukma
secebis kasih mendakap doa
seorang pencinta

Ya Rabbi
maha pemurah lagi mengasihani
simbahilah syurga kasih sayangmu
mengiringi tahajud dan tasbihku
mengiringi hajat dan zikirku
mengiringi taubat dan munajatku

walau setitis embun di hujung daun
dingin syahdu
dingin salju
dingin rindu

bawalah aku berlari ke langit
meniti pelangi
menggapai nur Ilahi

AB Airis Shah
Prau 2C
31 Julai 2012

Tuesday, October 15, 2013

BERLARI MENGEJAR PELANGI

BERLARI MENGEJAR PELANGI

bila sepi angin dingin mengusik
teruntai dedaun rambut
di hujung kening
senyum pun berkembang
hati pun berbunga

kepingin kembali terbang
bersama angin dan bermain hujan
dan bibir menguntum basah
masih malu
masih ayu
seperti dahulu

AB Airis Shah
18 September 2000
2:55 Desasiswa Permai USM

LATAH

LATAH

L
la
lat
latah
melatah
melatah-latah
melatah-latah-latah

amat mudah
meluruskan jari telunjuk
membetulkan salah
menggerakkan kuda-kuda tunggangan memacu terus
laju memecah tembok masalah
sehingga terjelir lidah di tali kekang
kakinya masih tidak berhenti
masih berlari

amat payah
membengkokkan jari kelingking
menyalahkan diri
pabila kuda tunggangan terseliuh tersungkur jatuh
sehingga terleleh liur di tepi longkang
di rotan belakang cemeti
tidak berlari

sehingga
kita sendiri
menapak kaki
memijak kaca berduri
baru kita mengerti

AB Airis Shah
16 September 2000
Bilik Mesyuarat SMKTAM

BUKIT WANG

BUKIT WANG

kubebat luka berdarah bangsaku
dengan warisan sekeping hati
dan segulung sejadah

AB Airis Shah
29 April 2000
Bukit Wang, Jitra, Kedah

DIALOG DIRI

DIALOG DIRI

resah hujan yang merintih
melepaskan resah menujah hujung bumbung
merebahkan lelah menitis ke riba petang
mengejutkan aku dari lena yang panjang

tanyalah pada dingin angin
mengapa gundah mengheret wajah
tentu jawabnya
musim sudah membawa berita

tanyalah pada awan hitam
mengapa suram memayung tanah
tentu jawabnya
terlalu sarat mendukung air mata

tanyalah kembali kepada hujan
mengapa gugur tiba-tiba
tentu jawabnya
ada tangis pilu merayu hiba
ada lidah kelu menyimpan cinta
ada hati lesu kasihnya terpana

AB Airis Shah
21 April 2000
Desa Utara

MENEMUI KEMANISAN DIRI

MENEMUI KEMANISAN DIRI

di sini
kutemui kembali nyanyian alam
yang menggetarkan degup jantung kemanusiaan
antara elus bayu meramas anak-anak padi
antara alun rindu anak-anak ikan menangkap di kali
antara layah bangau terbang menyapu awan tinggi
dan kutemui kemanisan rindu yang pergi...

ketenangan itu adalah mahligai rasa
yang menyuntik jiwa tersendu pasrah
setelah lama aku kehilangan
permai sawah
damai ramah
yang terpendam
di dasar kelelahan kota

kutemui kembali
sekuntum hati
yang kian mengerti

Hidup ini
sementara - sebelum pergi

AB Airis Shah
18 April 2000
Sawah Derga, Alor Setar.

Monday, October 14, 2013

EPILOG ROMANTIKA BULAN JATUH KE RIBA

EPILOG ROMANTIKA BULAN JATUH KE RIBA
( puisi rindu putera-puteri SMKTAM buat bonda ASASI )

1
kami tarikan lenggang seri seribu lautan kasih
kami lagukan dendang seri seribu gunung harapan
kami hampari baldu sukma memateri pohon rasa
sesekali menyambut bonda pujangga mencemar duli dari kayangan
sesekali kembali santak bersila bersama menguliti teratak kenangan
sesekali mengintai padang permainan lama tertinggal kekontangan
masihkah bebunga segar menguntum
masihkah pepohon tegak merimbun
masihkah bebuah merah meranum
masihkah beburung bersiul tersenyum

2
Bonda,
daerah ini telah lama terpinggir sepi
daerah ini telah lena ternyenyak diulit mimpi
tiada lagi kartika mengerdip memayungi persada jiwa
tiada juga kejora berkerlip menghiasi mahligai bangsa
tiada juga mutiara berkilau mengimbasi dasar sastera
yang tertinggal cuma
sebutir cincin permata tersimpul mati di jari manis
alegori sepikasih seorang putera mahkota
yang terbakar tasik cinta
yang berdarah kolam rasa
yang mengalir sungai derita
sampai hati membiarkan puteramu
termanggu-manggu rindu

3
Bonda
daerah ini telah lama terpinggir sepi
daerah ini telah lena ternyenyak diulit mimpi
tiada lagi kartika mengerdip memayungi persada jiwa
tiada juga kejora berkerlip menghiasi mahligai bangsa
tiada juga mutiara berkilau mengimbasi dasar sastera
yang tertinggal cuma
sehelai cindai sutera melilit rasa di bibir pustaka
alusi sepikasih seorang ratu jelita
yang terbakar tasik cinta
yang berdarah kolam rasa
yang membanjir sungai derita
tergamak hati membiarkan puterimu
tersedu-sedu syahdu

iv
Mari
kita singkap tabir jendela dan mengikat kemas erti bahagia
kita tatang makna dari ramuan kasih yang sempurna
kita kutip tinta lara dari musim derita
kita karang manik-manik rasa
menjadi kalungan cinta bersama
yang tegar mengharungi zaman
yang mekar menghilir kemajuan
yang segar meniti perubahan
biar kelak anak-anakmu
petah menguntum bicara
kamilah bangsa yang berjiwa merdeka
kamilah warga yang berdarah budaya
kamilah putera puteri yang bergelar pendeta
bangsa yang berakar nasional berminda global

AB Airis Shah
23 April 1998
Desa Utara

BILA HATI DILAPAH DUKA 2

BILA HATI DILAPAH DUKA 2
( buat teman-teman teristimewa )

tiada yang lebih kecewa
melihat Melayu bangsaku
pemimpin cendekia diperkuda haloba
jelir lidah rakus membaham mangsa

tiada yang lebih hina
melihat Melayu bangsaku
ditelanjang maruah di pinggir mahkamah
dijijik ludah di bibir ummah

tiada yang lebih duka
melihat Melayu bangsaku
mencarut retorik akhlak mulia
menepis hikmah lidah pendeta

tiada yang lebih sengsara
melihat Melayu bangsaku
menikam setia melontar sisa
mengutip kaca mengais permata

tiada yang lebih derita
melihat Melayu bangsaku
tangkai remaja terpokah susila
bunga bangsa terkoyak budaya

tiada yang lebih bisa
bisa sebisa-bisanya
melihat Melayu bangsaku
hebat mendabik dada di suria negara
mantap menjulang nama di tahta dunia

sedangkan mereka telah melupakan...
teratak usang itu
yang pernah mendidik mereka
akal budi jatidiri
akar budaya etika agama

Tiada yang lebih pilu
pilu sepilu-pilunya
melihat Melayu bangsaku
merintih hanyut ditepuk globalisasi
serpih melukut dikepuk sendiri

sedangkan mereka telah melupakan...
seorang tua berjanggut putih
menggeleng kepala membebat letih
darahnya masih merah, masih mengalir
matanya masih merah, masih banjir

Katanya:

" anakku telah tidak kenal lagi
akar Islam
pohon agama
rumpun maruah
tunjang bangsa

anakku telah tidak betah lagi
sujud kembali
menginsafi diri
berkampung kasih
di teratak kasih ini "

AB Airis Shah
7 April 1997
SMKTAM

BILA HATI DILAPAH DUKA 1

BILA HATI DILAPAH DUKA 1

sesekali air mata yang tumpah bisa menyuburkan gersang berabad
yang berdebu lesu merekah di dahan mati
sesekali merah hati yang berdarah bisa meracuni subur kasih
yang berdekad segar terserlah di pohon rimbun
sesekali parut hitam yang tercalar bisa menebus dosa semalam
yang berzaman tegar membedah duka beraja
sesekali semalu yang tersentuh bisa menguncup hilang tawanya
pergi bersama onak tajam menikam
sesekali pantai kasih akan berubah berpindah arah mengikut arus
dan hilang disambut hilaian angin liar di balik karang
sesekali pabila ada tangis tersedu di telapak riba
pasti mengundang ketawa ria di belakang jendela
sesekali pabila kuyu mata tersipu merayu melembut sukma
pasti bertandang jeling onar di balik dekah ketawa
biarkanlah...
asal bahagia.

AB Airis Shah
Desa Utara
1/10/1996

Sunday, October 13, 2013

MELAYAR RINDU

MELAYAR RINDU

” pelayaran kasih mengusung sarat rindu sepanjang kayuhan hidup bukan sekadar untuk melepaskan ombak keresahan dan mengutip bebuih kelelahan sebagai pendidik , tidak juga sekadar membebat kedukaan jiwa melalui hirisan-hirisan pengalaman pahit manis , sebaliknya berlebih kepada sirah lurus menemukan makna diri dan menyempurnakan kemanusiaan, khususnya merasai kemanisan diri dan kehebatan nur Ilahi sehinggalah tiba di pelabuhan kasih yang tenang abadi tanpa dasar, tanpa tebing dan tanpa penghujungnya. Moga-moga perahu kecil ini masih mampu menumpangi diri untuk kembali, sampai dan bertemu..."

Cukuplah Allah bagiku.
Pena Sastera :AB Airis Shah
Pena FB: Winter.Sonatta