DI PONDOK BURUK
sebatang pen dakwat hitam
bergolek di celah tikar usang
longlai dari genggaman tangan yang kejang
selembar kertas putih
peneman tintanya yang merintih
di pondok buruk itu
hatinya tersemat seribu rasa satu jiwa
ada cita yang ingin dicinta
ada kasih yang ingin dirintih
namun...
hajatnya ditelan kabus subuh
melayan angannya sepintal buih
dijapai pelita minyak tanah itu
pen dakwat hitam kini di tangan
selembar kertas putih kini kemas di genggaman
berjuta bunga cinta mewarnai kepala lilitnya yang dulu hitam
wangian kasturi kembali menerawang legar pondok itu
sinar mentari menerobos lubang kecil
menyinari paginya yang dulu gelap dan malap
bauan hutan hijau dan deru air sungai kembali berbisik
satu malam hikayat satu cinta
di pondok buruk itu
kertas putih membawa makna
suratan hidupnya kini bernyawa
~aku tak pernah mati~
nyawaku bernafas di sini~
@innurmust@qim DCA Putrajaya
19/2/2010 11.45mlm
Followers
Carian Dalam Blog Ini
Showing posts with label Ainnur Mustaqim. Show all posts
Showing posts with label Ainnur Mustaqim. Show all posts
Sunday, May 12, 2013
Saturday, May 11, 2013
HAMBA WAKTU
HAMBA WAKTU
Rembatan waktu
membongkar segala resah sesah jantung perjalanan
menghirup secangkir kopi pahit di pinggir jalan
mata memandang ligat riak bongkak insan
Apa ada pada nama, pangkat ,darjat merata
kiranya kapan putih menanti seela
palingkan kembali tongkat masa
agar kau menyelami dan merasai
nikmat dunia tua yang hampir mati
salam marhain
@innurmust@qim putrajaya
23/4/13 3.30ptg
Rembatan waktu
membongkar segala resah sesah jantung perjalanan
menghirup secangkir kopi pahit di pinggir jalan
mata memandang ligat riak bongkak insan
Apa ada pada nama, pangkat ,darjat merata
kiranya kapan putih menanti seela
palingkan kembali tongkat masa
agar kau menyelami dan merasai
nikmat dunia tua yang hampir mati
salam marhain
@innurmust@qim putrajaya
23/4/13 3.30ptg
ZURIAT MERAH DI LUMPUR SAWAH
ZURIAT MERAH DI LUMPUR SAWAH
di celah kemilau senja
berkejaran anak-anak desa
tak mengenal erti payah derita
saling ketawa bergurau senda
biarpun kepuk beras
hanya seinci ternganga
di celah perigi batu
girang anak-anak mandi berlagu
tak hirau air mengalir hamis berbau
asal anak kampung berhati padu
biarpun segayung sehari membasuh pilu
di celah dapur kayu
sabar anak-anak menunggu
deras menggelegak perut hempedu
tak peduli asalkan beralas batu-batu
biarpun berenam kongsi sesudu
di celah pekat malam
riang berhikayat seribu gurindam
tak kisah nyamuk agas bermukim di kulit kusam
biar birat berkudis tak kunjung padam
berteman cahaya samar pelita ayam
di celah gerobok kayu
bersusun pakaian kelam kelabu
ada yang carik bak roti kirai pak Abu
masih beralas di badan umpama yang baru
biarpun lipas hitam jemu bertamu
di celah lumpur sawah
riang anak-anak membawa arah
berteman bubu dan tempang sebuah
menjerat ikan habuan sekawah
biarpun di rumah menanti pasrah
di celah atap pohon rumbia
apakah ada masa depan dan cita
hikayat gurindam malam yang hanya sandiwara
penawar derita kala yang lain beraja
zuriat kepapaan pepijat masa
tak siapa peduli kerana menjulang harta
anak-anak girang di sawah berpesta
itulah dunianya kepompong syurga
@innurmust@qim @ selayangbaru
17/6/2012 5.30ptg
di celah kemilau senja
berkejaran anak-anak desa
tak mengenal erti payah derita
saling ketawa bergurau senda
biarpun kepuk beras
hanya seinci ternganga
di celah perigi batu
girang anak-anak mandi berlagu
tak hirau air mengalir hamis berbau
asal anak kampung berhati padu
biarpun segayung sehari membasuh pilu
di celah dapur kayu
sabar anak-anak menunggu
deras menggelegak perut hempedu
tak peduli asalkan beralas batu-batu
biarpun berenam kongsi sesudu
di celah pekat malam
riang berhikayat seribu gurindam
tak kisah nyamuk agas bermukim di kulit kusam
biar birat berkudis tak kunjung padam
berteman cahaya samar pelita ayam
di celah gerobok kayu
bersusun pakaian kelam kelabu
ada yang carik bak roti kirai pak Abu
masih beralas di badan umpama yang baru
biarpun lipas hitam jemu bertamu
di celah lumpur sawah
riang anak-anak membawa arah
berteman bubu dan tempang sebuah
menjerat ikan habuan sekawah
biarpun di rumah menanti pasrah
di celah atap pohon rumbia
apakah ada masa depan dan cita
hikayat gurindam malam yang hanya sandiwara
penawar derita kala yang lain beraja
zuriat kepapaan pepijat masa
tak siapa peduli kerana menjulang harta
anak-anak girang di sawah berpesta
itulah dunianya kepompong syurga
@innurmust@qim @ selayangbaru
17/6/2012 5.30ptg
ZURIAT AL MAWLID
ZURIAT AL MAWLID
di keheningan subuh
desiran air kali menjemput suria fajar menjengah diri
kelopak maya seakan terjaga dari lena
selimut malam bakal melabuhkan tirai sukma
kokokkan ayam jantan syarat utama untuk tidak lupa
sesuci embunan pagi
barisan al mawlid putih berdiri
ruang-ruang saf bakal dipenuhi
melaung kalimah suci membongkar maya sepi
alunan azan menyentak naluri insani
Laksana tentera di medan perang
berjuang untuk syahid di hujung pedang
jemaah kabilah yang tak gentar menimbang
amalan zikrullah pegangan yang di sandang
bait-bait ayatullah bergema memecah gegendang
harumnya bunga-bunga syurga
menyelinap ke seluruh ruang persada
zuriat mawlid pewaris ulama perkasa
jannatul firdausi menanti dengan rela
tarbiahlah dirimu dengan istiqamah yang sehala
@innurmust@qim@putrajaya
25/3/2013 10.30pg
di keheningan subuh
desiran air kali menjemput suria fajar menjengah diri
kelopak maya seakan terjaga dari lena
selimut malam bakal melabuhkan tirai sukma
kokokkan ayam jantan syarat utama untuk tidak lupa
sesuci embunan pagi
barisan al mawlid putih berdiri
ruang-ruang saf bakal dipenuhi
melaung kalimah suci membongkar maya sepi
alunan azan menyentak naluri insani
Laksana tentera di medan perang
berjuang untuk syahid di hujung pedang
jemaah kabilah yang tak gentar menimbang
amalan zikrullah pegangan yang di sandang
bait-bait ayatullah bergema memecah gegendang
harumnya bunga-bunga syurga
menyelinap ke seluruh ruang persada
zuriat mawlid pewaris ulama perkasa
jannatul firdausi menanti dengan rela
tarbiahlah dirimu dengan istiqamah yang sehala
@innurmust@qim@putrajaya
25/3/2013 10.30pg
HAMBA WAKTU
HAMBA WAKTU
Rembatan waktu
membongkar segala resah sesah jantung perjalanan
menghirup secangkir kopi pahit di pinggir jalan
mata memandang ligat riak bongkak insan
Apa ada pada nama, pangkat ,darjat merata
kiranya kapan putih menanti seela
palingkan kembali tongkat masa
agar kau menyelami dan merasai
nikmat dunia tua yang hampir mati
salam marhain
@innurmust@qim putrajaya
23/4/13 3.30ptg
Rembatan waktu
membongkar segala resah sesah jantung perjalanan
menghirup secangkir kopi pahit di pinggir jalan
mata memandang ligat riak bongkak insan
Apa ada pada nama, pangkat ,darjat merata
kiranya kapan putih menanti seela
palingkan kembali tongkat masa
agar kau menyelami dan merasai
nikmat dunia tua yang hampir mati
salam marhain
@innurmust@qim putrajaya
23/4/13 3.30ptg
Friday, May 10, 2013
KEPOMPONG BERDARAH
NAIB JOHAN
THMK 3
Penulis : Ainnur Mustaqim
Tarikh : 22/2/2013
Tajuk : KEPOMPONG BERDARAH
Cindai sutera nan indah
menyelimuti malam pesta berdarah
kepompong rama-rama menjalar haluan tak berarah
melakar impian nafsu bermata merah
Pohon serakah berbisik ganas
melampiaskan impian syaitan di jelatang panas
sayap rama-rama gugur ditinda
sangkara selingkuh kunang-kunang yang amat buas
Malam merangkak tua usia
rama-rama masih berpesta ria
tatkala mentari menyirna warna
terbang kunang-kunang menebar rasa
Di bawah perdu pelangi jingga
menanti musim salju yang bakal tiba
kepompong lunyai di bawa bayu hiba
gugur sayapnya dicarik permainan noda
Tangisan lara yang tak berjiwa
lewat mengintai kamar rahsia
tertutup pintu buatmu rama-rama
kepompong merah bernisankan tanda
@innurmust@qim 22/2/2013
1.30 ptg putrajaya
THMK 3
Penulis : Ainnur Mustaqim
Tarikh : 22/2/2013
Tajuk : KEPOMPONG BERDARAH
Cindai sutera nan indah
menyelimuti malam pesta berdarah
kepompong rama-rama menjalar haluan tak berarah
melakar impian nafsu bermata merah
Pohon serakah berbisik ganas
melampiaskan impian syaitan di jelatang panas
sayap rama-rama gugur ditinda
sangkara selingkuh kunang-kunang yang amat buas
Malam merangkak tua usia
rama-rama masih berpesta ria
tatkala mentari menyirna warna
terbang kunang-kunang menebar rasa
Di bawah perdu pelangi jingga
menanti musim salju yang bakal tiba
kepompong lunyai di bawa bayu hiba
gugur sayapnya dicarik permainan noda
Tangisan lara yang tak berjiwa
lewat mengintai kamar rahsia
tertutup pintu buatmu rama-rama
kepompong merah bernisankan tanda
@innurmust@qim 22/2/2013
1.30 ptg putrajaya
Sunday, February 24, 2013
GERHANA CINTA BERSYAIR DUSTA
GERHANA CINTA BERSYAIR DUSTA
Tika belahan jiwaku dirundung pilu
terbilas lembayung cinta di senja nan merah
tika rajuk kumasih berlagu sendu
tiada tiupan bayu laut yang gemersik indah
Tiga purnama dukaku menjalar malam
tiada mimpi indah yang melakar buana hati
deraian airmata yang menghiasi persada kelam
mengukir arca dendam buat makhluk bergelar LELAKI
Ungkapan cinta berbaur nista
di sebalik bait-bait indah menabur janji
melakar gerbang cinta mahligai jiwa
kau mengheretku ke alam fantasi duniawi
Lantera merah menghiasi jutaan bintang
kautaburi juraian kasih yang merayu
tika hatiku dijemur panas jelatang
kausirami dengan cangkir kasturi biru
Kau syairkan madah seorang Laksamana
mencari Sang Ratu yang berhijab ulama
kaumemungkirkan segeluk bahagia
dari cangkir maduku yang bertatah delima
Selindungkan segala lakonan pentasmu
kauberselingkuh di balik raut wajahmu
bermadah indah di ranjang bisu
merayu rindu pada hawa yang kauseru
Angkuh kasih sayangku kaucarik
ingkar pada cintaku yang kaujentik
mungkir pada impian yang kaulirik
dusta pada azimat rindu yang berputik
Menganyam segugus bahagia di balik derita
tegar kaumukimkan segalanya di rimba jiwa
kaucampak lakaran cinta di juram liku berbisa
kaupadamkan andang cintaku tika ianya marak menyala
Pelangi indah bisa luntur warnanya
rentak hujan bisa surut rintiknya
hukum alam bisa temu pelakunya
janji YA RABB tak kan mungkir pada umatnya
~salam kasih buatmu
bahagia atas jutaan airmataku
terimakasih menghadiahkan kusejuta derita
sampai mati azimat ini kubawa~
@inurmust@qim putrajaya
20/2/2013 3.30ptg
Tika belahan jiwaku dirundung pilu
terbilas lembayung cinta di senja nan merah
tika rajuk kumasih berlagu sendu
tiada tiupan bayu laut yang gemersik indah
Tiga purnama dukaku menjalar malam
tiada mimpi indah yang melakar buana hati
deraian airmata yang menghiasi persada kelam
mengukir arca dendam buat makhluk bergelar LELAKI
Ungkapan cinta berbaur nista
di sebalik bait-bait indah menabur janji
melakar gerbang cinta mahligai jiwa
kau mengheretku ke alam fantasi duniawi
Lantera merah menghiasi jutaan bintang
kautaburi juraian kasih yang merayu
tika hatiku dijemur panas jelatang
kausirami dengan cangkir kasturi biru
Kau syairkan madah seorang Laksamana
mencari Sang Ratu yang berhijab ulama
kaumemungkirkan segeluk bahagia
dari cangkir maduku yang bertatah delima
Selindungkan segala lakonan pentasmu
kauberselingkuh di balik raut wajahmu
bermadah indah di ranjang bisu
merayu rindu pada hawa yang kauseru
Angkuh kasih sayangku kaucarik
ingkar pada cintaku yang kaujentik
mungkir pada impian yang kaulirik
dusta pada azimat rindu yang berputik
Menganyam segugus bahagia di balik derita
tegar kaumukimkan segalanya di rimba jiwa
kaucampak lakaran cinta di juram liku berbisa
kaupadamkan andang cintaku tika ianya marak menyala
Pelangi indah bisa luntur warnanya
rentak hujan bisa surut rintiknya
hukum alam bisa temu pelakunya
janji YA RABB tak kan mungkir pada umatnya
~salam kasih buatmu
bahagia atas jutaan airmataku
terimakasih menghadiahkan kusejuta derita
sampai mati azimat ini kubawa~
@inurmust@qim putrajaya
20/2/2013 3.30ptg
Tuesday, September 25, 2012
TANGISAN SANG PENYAIR BUKIT
TANGISAN SANG PENYAIR BUKIT
Kulontarkan pandangan kaburku
Ke tengah lautan gelora bisu
Tatkala merah cintaku di pelamin jingga
Rupanya ribut pasir datang menggila
Kutongkah arus deras
Menjunam ke seluruh ragaku
Biarpun payah dirimu ku bilas
Menjadi kerikil bersinar hias
Kusiram segala sepi
Kutanamkan benih kasih
Kucambahkan putik cinta
Kusuburkan ranting sayang
Kubelai malammu agar tak diulit igau panjang
Sederas air mengalir
Kau bangkit bukti janji
Menerjah setiap lorong waktu
Mencipta fantasi cinta
Menabur bunga indah di laman jiwa
Namun…
Pelangi indah menyerak warna serakah
Kau terbias dek kelip sang rerama megah
Pesona maya mengheret janjimu ke teratak belah
Alpamu menyerah pada takdir yang mengalah
Kaubiar diriku menyapa sepi
Kaubiar anganmu memakan diri
Kaulepas janjimu di relung hati
Kaucampak pelamin cintamu di lembah berduri
Kaumelakar angan kosong
Lalu kaumukimkan di hati sepiku
Kauhilang di tengah kabus malam
Meninggalkan nisan lara dijiwaku
Kaubiarkan aku berlabuh
Mencari dahan yang kian rapuh
Kaupamerkan jiwamu ampuh
Meninggalkan cintamu yang dulu kusepuh
ainnurmustaqim@12.00tgh
putrajaya25/9
Kutongkah arus deras
Menjunam ke seluruh ragaku
Biarpun payah dirimu ku bilas
Menjadi kerikil bersinar hias
Kusiram segala sepi
Kutanamkan benih kasih
Kucambahkan putik cinta
Kusuburkan ranting sayang
Kubelai malammu agar tak diulit igau panjang
Sederas air mengalir
Kau bangkit bukti janji
Menerjah setiap lorong waktu
Mencipta fantasi cinta
Menabur bunga indah di laman jiwa
Namun…
Pelangi indah menyerak warna serakah
Kau terbias dek kelip sang rerama megah
Pesona maya mengheret janjimu ke teratak belah
Alpamu menyerah pada takdir yang mengalah
Kaubiar diriku menyapa sepi
Kaubiar anganmu memakan diri
Kaulepas janjimu di relung hati
Kaucampak pelamin cintamu di lembah berduri
Kaumelakar angan kosong
Lalu kaumukimkan di hati sepiku
Kauhilang di tengah kabus malam
Meninggalkan nisan lara dijiwaku
Kaubiarkan aku berlabuh
Mencari dahan yang kian rapuh
Kaupamerkan jiwamu ampuh
Meninggalkan cintamu yang dulu kusepuh
ainnurmustaqim@12.00tgh
putrajaya25/9
Friday, September 14, 2012
MUSTIKA MAYA PENYAIR DESA
MUSTIKA MAYA PENYAIR DESA
Sahutan jalak lenteng
Tak bisa menjemputku untuk lena
Kepulan kabus yang mula bermukim
Menusuk ke temulangku yang kering
Bertemankan nota buku biru
Aku meluah segala resah
Aku melepas segala lelah
Aku menghunjam segala pasrah
Di laman muka buku dunia maya
Bicara kususun tanpa suara
Berteman mesra di sempadan dunia
Adakala….tawa mereka penawar lara
Berkongsi rencah hidup pelbagai aksara
Azalinya aku sunyi
Hakikatnya aku dibarisi
Teman maya yang bertamu acapkali
Bisa menjentik naluriku untuk tidak sepi
Jemari lentikku pantas memetik
Sepantas mindaku melakar karya agung
Melahirkan bait bait asmara duka lara
Ceritera alam maya yang tiada penghujung usianya
Jujur bisa melahirkan buah buah gembira dari gobok jiwa lara sang penyair desa
@innurmustaqim@putrajaya
13/9/2012 1.05 ptg
Bertemankan nota buku biru
Aku meluah segala resah
Aku melepas segala lelah
Aku menghunjam segala pasrah
Di laman muka buku dunia maya
Bicara kususun tanpa suara
Berteman mesra di sempadan dunia
Adakala….tawa mereka penawar lara
Berkongsi rencah hidup pelbagai aksara
Azalinya aku sunyi
Hakikatnya aku dibarisi
Teman maya yang bertamu acapkali
Bisa menjentik naluriku untuk tidak sepi
Jemari lentikku pantas memetik
Sepantas mindaku melakar karya agung
Melahirkan bait bait asmara duka lara
Ceritera alam maya yang tiada penghujung usianya
Jujur bisa melahirkan buah buah gembira dari gobok jiwa lara sang penyair desa
@innurmustaqim@putrajaya
13/9/2012 1.05 ptg
Thursday, September 13, 2012
HIJAB SANG PENYAIR DI KAKI BUKIT
Bagai alunan qasidah cinta
Memintal puing-puing angin
Yang kusut di kaki bukit
Berlagu sukma rindu perit
Bertiup bayu semilir berapit
Kuabadikan jasad ini di kaki bukit
Memukim segala usia yang bersisa
Menghitung arca suka duka di gigi stalaktit
Dan benih-benih cinta kian subur mengharum
Berserakan kelopak mawar jingga
Yang gugur sebelum tua
Seakan mengejek hayat penyair duka
Yang tua sebelum waktunya
Hayat yang dimamah bayangan hitam
Tegar untuk penyair tidak berdendam
Menutup segala hijabnya yang kusam
Serah diri agar rohnya padam dalam diam
Airmata yang beku di hujung kelopak layu
Menjadi titisan embun di kala dinihari
Hembusan nafas yang kian menghela lesu
Melenakan dirinya di kaki bukit bisu
“hijabnya telah tertutup”
@innurmustaqim@putrajaya
4.40ptg..
Bertiup bayu semilir berapit
Kuabadikan jasad ini di kaki bukit
Memukim segala usia yang bersisa
Menghitung arca suka duka di gigi stalaktit
Dan benih-benih cinta kian subur mengharum
Berserakan kelopak mawar jingga
Yang gugur sebelum tua
Seakan mengejek hayat penyair duka
Yang tua sebelum waktunya
Hayat yang dimamah bayangan hitam
Tegar untuk penyair tidak berdendam
Menutup segala hijabnya yang kusam
Serah diri agar rohnya padam dalam diam
Airmata yang beku di hujung kelopak layu
Menjadi titisan embun di kala dinihari
Hembusan nafas yang kian menghela lesu
Melenakan dirinya di kaki bukit bisu
“hijabnya telah tertutup”
@innurmustaqim@putrajaya
4.40ptg..
Thursday, August 30, 2012
BISIKAN SERAMBI KASIH
Di batas bendang panjang
Berdiri pohon rendang
Di alor sawah hijau
Ada mata yang memukau
Kisah ALIFF membelah malam
Rajuk ZULAIKA kian padam
Serambi kasih mula berbisik
Pada dua hati yang terusik
Bergolek sepi sibelah rotan
Mengharap kasih yang tidak keruan
Pelamin ranjang beraksi sendu
Berbisik tangisan bulan madu
Tak mungkin bersatu mentari biru
Dikala bulan bicara bisu
Tak mungkin hilang cinta arjuna
Tika dewi gemala melayan sukma
Bayu berbisik di serambi kasih
Mengharap cinta bertaut pulih
ALIFF ZULAIKA menyulam cinta
Kembali terjalin berikrar setia
Sibelah rotan di jari manis
Menunggu arjuna bakal direnjis
Cinta bertaut kasih bersemi
Keakhir hayat menunai janji
Berlalu sepi bisikan serambi
Cinta terputus bertaut kembali
Sehidup semati terpatri janji
Sampai ke syurga kasihnya pasti
ainnurmustaqim@putrajaya
13/6/2012 2.35ptg
Berdiri pohon rendang
Di alor sawah hijau
Ada mata yang memukau
Kisah ALIFF membelah malam
Rajuk ZULAIKA kian padam
Serambi kasih mula berbisik
Pada dua hati yang terusik
Bergolek sepi sibelah rotan
Mengharap kasih yang tidak keruan
Pelamin ranjang beraksi sendu
Berbisik tangisan bulan madu
Tak mungkin bersatu mentari biru
Dikala bulan bicara bisu
Tak mungkin hilang cinta arjuna
Tika dewi gemala melayan sukma
Bayu berbisik di serambi kasih
Mengharap cinta bertaut pulih
ALIFF ZULAIKA menyulam cinta
Kembali terjalin berikrar setia
Sibelah rotan di jari manis
Menunggu arjuna bakal direnjis
Cinta bertaut kasih bersemi
Keakhir hayat menunai janji
Berlalu sepi bisikan serambi
Cinta terputus bertaut kembali
Sehidup semati terpatri janji
Sampai ke syurga kasihnya pasti
ainnurmustaqim@putrajaya
13/6/2012 2.35ptg
Di alor sawah hijau
Ada mata yang memukau
Kisah ALIFF membelah malam
Rajuk ZULAIKA kian padam
Serambi kasih mula berbisik
Pada dua hati yang terusik
Bergolek sepi sibelah rotan
Mengharap kasih yang tidak keruan
Pelamin ranjang beraksi sendu
Berbisik tangisan bulan madu
Tak mungkin bersatu mentari biru
Dikala bulan bicara bisu
Tak mungkin hilang cinta arjuna
Tika dewi gemala melayan sukma
Bayu berbisik di serambi kasih
Mengharap cinta bertaut pulih
ALIFF ZULAIKA menyulam cinta
Kembali terjalin berikrar setia
Sibelah rotan di jari manis
Menunggu arjuna bakal direnjis
Cinta bertaut kasih bersemi
Keakhir hayat menunai janji
Berlalu sepi bisikan serambi
Cinta terputus bertaut kembali
Sehidup semati terpatri janji
Sampai ke syurga kasihnya pasti
ainnurmustaqim@putrajaya
13/6/2012 2.35ptg
Subscribe to:
Posts (Atom)