Followers

Carian Dalam Blog Ini

Loading...

Thursday, July 18, 2013

EPILOG EPIGONI III : Parasit Cinta Disula

EPILOG EPIGONI III : Parasit Cinta Disula

Embun di hujung nyawa, menangis mengenang nasib
saat itulah suria pagi terbit, sebenderang cahaya.
Di atas langit, Kuasa merenung bumi
dan di balik awan, penuh dengan cerita-cerita dunia
sebelum bertemu senja.

Epilog epigoniku, melihat berbagai warna, dalam mimpi-mimpimu
puisi baru, sebuah lagu lama, parasit cinta disula.

~
Dedaun kecewa gugur menjamah bumi sekian lama.
Kabur sehingga bertukar wajahnya, kian gugur lagi.

Kualirkan, kupusing dan kuadun
segenggam penggamit yakin
setitis ertinya tabah dicampur
menjadi baja pengajaran.
Duka dendam sakit hati
tinggi meninggi membusung.

Kusemaikan pohon cinta bersiramkan pengalaman berbajakan pengajaran
tumbuh subur mekar segala parasit, disula cintaku abadi.
~

Aku melihat, memahami, menghayati
kronologisnya siasah cinta
berjuta-juta kata, bersiduga melamar sabda pendita
mungkin kita juga, masih dalam dunia kaca
lena berdagang dengan saudagar mimpi-mimpi kita
dengan memilih jalan-jalan sesingkat senang
sedang mereka di luar sana mengharungi jalan bercabang
kisah-kisah yang panjang
rindu-rindu yang walang
harap-harapan yang tiada jelang.

Aku merasa
akal, nyawa dan saksiku, berlegar-legar di nyali
disuntik tak henti-henti : Picagari.
Dunia rencam rasa kita, adalah pilihan kita
dibiar berkaca
digilap bercahaya
di tangan, sangat berharga.

Ah ... duhai jiwa
keluarlah dari kepompong itu
melihat dunia baru.

.
Angah Arie
Seremban 110313 21:00

No comments:

Post a Comment